Ketika Perut Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam Berbunyi

Kamis, 09 Oktober 2014





⛅ Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam menjadi imam shalat, para shahabat menjadi makmum di belakang beliau, para shahabat mendengar bunyi menggurutup setiap Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam bergerak, seolah-olah sendi-sendi Rasulullah saling bergesekan satu dengan yg lain..

 Umar bin Kaththab Radhiallahu 'anhu yg tidak tahan melihat kondisi Rasulullah, segera bertanya ke baginda setelah selesai shalat, "Ya Rasulullah kami melihat seolah-olah tuan sedang menanggung penderitaan yg amat berat, apakah anda sakit..??

 Namun Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam menjawab dengan tenang "Tidak, alhamdulillah aku sehat dan segar.."
Lalu Umar bin Khaththab radhiallahu 'anhu melanjutkan pertanyaannya..
"Lalu kenapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah olah sendi-sendi bergesekan di tubuh anda? Kami yakin engkau sedang sakit.."

Melihat kecemasan di wajah shahabatnya, Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam kemudian mengangkat jubahnya, para shahabat terkejut melihat perut Rasulullah yg kempis dibalut sehelai daun berisi batu kerikil untuk menahan lapar.

🌑 Batu-batu kerikil itulah yg menimbulkan bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam bergerak. Umar bin Khaththab radhiallahu 'anhu memberanikan diri berkata..
"Ya Rasulullah.. jika anda merasakan lapar dan tidak punya makanan, lalu apakah kami hanya tinggal diam..??

 Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam menjawab dengan lembut..
"Tidak sahabatku, aku tahu apapun akan engkau korbanban demi Rasulullah-mu ini, tetapi apakah yg akan kujawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban umatnya.."

 Para sahabat hanya tertegun, dan Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam melanjutkan..
"Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yg kelaparan di dunia ini terlebih lg kelaparan di akhirat kelak.."

 Subhanallah...
Itulah kepemimpinan yg dicontohkan baginda Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam, kepemimpinan yg mencintai dan dicintai umatnya, pemimpin yg tdk ingin menjadi beban umatnya apalagi menyempitkan & mempersulit umatnya..

💕 Allohumma Sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad 💕

POHON KURMA

Rabu, 08 Oktober 2014





Ada kata² bijak kuno dari daerah Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam dibesarkan yang mengatakan bahwa: "Orang BENAR akan KUAT bertunas seperti pohon kurma."

Pohon kurma lazim dijumpai di Timur Tengah, dengan kondisi tanah yang kering, gersang, tandus dan kerap dihantam badai gurun yang dahsyat dan ganas. Hanya pohon kurma dianggap sebagai pohon yang tahan banting.

Kekuatan pohon kurma ada di AKAR²NYA (jika kita semua HIDUP & KUAT IMANNYA), petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dan ditindih dengan batu.

Mengapa biji korma itu harus ditutup batu...???

Ternyata, batu tersebut memaksa pohon kurma berjuang untuk tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami HAMBATAN, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan diatasnya. Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah.

Coba Renungkan, Bukankah itu PRINSIP kehidupan yang luar biasa...???

Sekarang kita tahu mengapa Allah Subhanahu wa Ta'ala kerapkali mengijinkan tekanan hidup selalu datang. Bukan untuk melemahkan & menghancurkan kita, sebaliknya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengijinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita BERAKAR semakin KUAT. Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol "Batu Masalah²" yang selama ini menekan kita.

Kita akan keluar menjadi Pemenang Kehidupan (Peraih Reward). Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah mendesain kita seperti pohon kurma. Sebab itu jadilah hamba-Nya yang Sabar, Tangguh, Kuat danTegar menghadapi beratnya kehidupan.

Milikilah CARA pandang Positif bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi Pemenang² Kehidupan atas sebab kesabaran..

Semoga kita semua menjadi hamba Alloh yang handal berkat ma'unah & barokah-Nya..

Satu kebaikan kita tabur di hari ini, akan membuat hari ini punya arti Luar biasa utk Kita dan untuk semua juga di hari yang akan datang..

Wallahul musta'aan ...

Meluruskan Salah Paham Seputar Haji Akbar

Sabtu, 04 Oktober 2014






Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ.

“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kalian (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagi kalian; tetapi jika kalian berpaling, ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” [At-Taubah: 3]

 

Dalam menafsirkan haji Akbar pada ayat di atas, para ulama tafsir menyebut tiga pendapat:

Pertama, haji Akbar adalah hari ‘Arafah. Ini adalah pendapat Umar bin Al-Khattâb, Ibnuz Zubair, Abu Juhaifah, Thâwûs, ‘Athâ`, dan Mujâhidrahimahumullâh.

Kedua, haji Akbar adalah hari Nahr (hari Idul Adhha, 10 Dzulhijjah). Ini adalah pendapat Abu Musa Al-Asy’ary, Al-Mughîrah bin  Syu’bah, Abdullah bin Abi Aufa, Abdullah bin Syaddâd, Ibnul Musayyab, Ibnu Jubair, Ikrimah, Asy-Sya’by, An-Nakhâ’iy, Az-Zuhry, Ibnu Zaid, As-Suddy, dan selainnyarahimahumullâh.

Dua pendapat di atas telah disebutkan juga merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ.

Ketiga, haji Akbar adalah seluruh hari-hari Mina. Ini adalah pendapat Mujâhid dan Sufyân Ats-Tsauryrahimahumallâh.

Demikian simpulan dari keterangan Ibnu Jarîr, Ibnu Katsîr, dan Ibnul Jauzy dalam tafsir mereka tentang ayat di atas.

Ibnu Jarîr, Ibnu Katsîr, dan selainnya menguatkan bahwa yang dimaksud dengan haji Akbar adalah hari Nahr.

 

Memang banyak riwayat yang menguatkan bahwa hari Nahr adalah hari haji Akbar. Di antaranya adalah hadits seorang lelaki dari shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata,

خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مُخَضْرَمَةٍ، فَقَالَ: هَذَا يَوْمُ النَّحْرِ، وَهَذَا يَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallampernah berkhutbah kepada Kami pada hari Nahr di atas seekor unta merah yang ujung telinganya terpotong. Beliau berucap, ‘Ini adalah hari Nahr dan hari haji Akbar.’.”[1]

Juga, dalam hadits Ibnu Umarradhiyâllahu ‘anhumâ, beliau bertutur,

وَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ بَيْنَ الجَمَرَاتِ فِي الحَجَّةِ الَّتِي حَجَّ بِهَذَا، وَقَالَ: هَذَا يَوْمُ الحَجِّ الأَكْبَرِ

“Pada hari Nahr, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berhenti antara pelemparan-pelemparan jamrah pada haji yang beliau berhaji dengan ini. Beliau bersabda, ‘Ini adalah hari haji Akbar.’.”[2]

Dalam hadits lain, hadits Abu Hurairahradhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata,

بَعَثَنِي أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فِيمَنْ يُؤَذِّنُ يَوْمَ النَّحْرِ بِمِنًى: لاَ يَحُجُّ بَعْدَ العَامِ مُشْرِكٌ، وَلاَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ، وَيَوْمُ الحَجِّ الأَكْبَرِ يَوْمُ النَّحْرِ

“Abu Bakr radhiyallâhu ‘anhu mengutus Saya untuk mengumumkan kepada orang-orang yang berada di Mina pada hari Nahr, ‘Tidak boleh seorang musyrik berhaji setelah tahun ini, dan jangan ada seseorang yang telanjang yang thawaf di Ka’bah, serta haji Akbar adalah hari Nahr.’.”[3]

Selain itu, di antara makna yang mendukung hari Nahr sebagai haji Akbar adalah keutamaan hari Nahr yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam jelaskan. Dari Abdullah bin Qurath radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْظَمُ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr kemudian hari Al-Qarr.” [4]

 

Dari keterangan-keterangan di atas, tampaklah kekeliruan yang tersebar pada hari-hari ini di berbagai media bahwa haji, bila hari ‘Arafahnya bertepatan dengan hari Jum’at, dianggap sebagai haji Akbar.

Al-Mubârakfury rahimahullâh berkata, “Telah tersohor di kalangan orang-orang awam bahwa hari ‘Arafah, jika bertepatan dengan hari Jum’at, hajinya menjadi haji Akbar, padahal tidak ada dasar (pijakan) dalam hal tersebut. Betul bahwa Razîn meriwayatkan dari Thalhah bin ‘Ubaidullah bin Karz secara mursal (bahwa),

أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ وَإِذَا وَافَقَ يَوْمَ جُمُعَةٍ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِينَ حَجَّةً فِي غَيْرِ يَوْمِ جُمُعَةٍ

‘Sebaik-baik hari adalah hari ‘Arafah, dan apabila bertepatan (hari ‘Arafah) bertepatan dengan hari Jum’at, itu lebih afdhal daripada tujuh puluh haji pada selain hari Jum’at.’ Demikian (disebutkan) pada Majma’ Al-Fawâ`id, padahal itu adalah hadits mursal, sedang Saya tidak menemukan sanadnya.”[5]

Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Adapun yang tersohor melalui lisan orang-orang awam (haji pada hari ‘Arafah bertepatan dengan Jum’at) senilai 72 haji, hal itu adalah batil dan tidak memiliki asal dari Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari shahabat dan tabi’in. Wallâhu A’lam.”[6]

Hadits yang disebutkan oleh Al-Mubârakfury dari Majma’ Al-Fawâ`iddisebutkan pula oleh Ibnu Hajar dan As-Sakhâwy dengan lafazh,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ عَرَفَةَ وَافَقَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ سَبْعِيْنَ حَجَّةً فِيْ غَيْرِهَا

“Sebaik-baik hari yang matahari terbit pada (hari) itu adalah hari ‘Arafah yang bertepatan dengan hari Jum’at. (Hari) itu lebih baik daripada tujuh puluh haji pada selain (hari) tersebut.”

Setelah menyebutkan bahwa hadits di atas disebutkan secara marfu’ oleh Razîn, Ibnu Hajar berkata, “Saya tidak mengetahui keadaannya karena (Razîn) tidak menyebutkan shahabat (perawi hadits) dan siapa saja yang meriwayatkan (hadits) tersebut.”[7]

Demikian pula penegasan As-Sakhawy dalam Al-Fatawâ Al-Hadîtsiyyah.

Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqy menyatakan bahwa hadits tersebut batil, tidak sah.[8]

Oleh karena itu, setiap muslim tidaklah diperbolehkan menggunakan istilah-istilah yang tidak memiliki dasar syariat yang kuat. Apalagi, menamakan bertepatannya hari ‘Arafah dan hari Jum’at dengan nama haji Akbar tentu akan membawa kepada kerusakan lain berupa mengganti penggunaan nama yang disyariatkan. Telah berlalu silang pendapat ulama tentang makna haji Akbar, tetapi tidak seorang pun yang membawa penamaan haji Akbar untuk hari ‘Arafah yang bertepatan dengan hari Jum’at.

 

Kendati demikian, Ibnul Qayyimrahimahullâh juga menyebut sepuluh kelebihan hari ‘Arafah yang bertepatan dengan hari Jum’at:

Pertama, bertemunya dua hari yang merupakan sebaik-baik hari.

Kedua, pada hari itu, terdapat waktu yang dipastikan mustajabah, yang menurut kebanyakan pendapat ulama adalah pada akhir waktu setelah Ashar saat seluruh orang yang berada di ‘Arafah berdiri berdoa dan memohon dengan sangat.

Ketiga, bertepatan dengan hari wuquf Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Keempat, seluruh kaum muslimin di berbagai belahan dunia menghadiri khutbah Jum’at atau wuquf, sementara hal itu tidak terjadi pad waktu lain.

Kelima, hari tersebut bertepatan dengan hari disempurnakannya agama dan disempurnakannya nikmat untuk kaum muslimin.

Keenam, hari Jum’at adalah hari Id, sedang hari ‘Arafah adalah hari Id untuk mereka yang berada di ‘Arafah. Jika hari ‘Arafah bertepatan dengan hari Jum’at, berarti dua hari Id terkumpul.

Ketujuh, hari tersebut bertepatan dengan hari perkumpulan akbar dan berdirinya manusia pad ahari Kiamat. Oleh karena itu, keberadaan hari Jum’at adalah untuk mengingat awal permulaan makhluk dan hari kebangkitan.

Kedelapan, ketaatan-ketaatan untuk kaum musliminbanyak terjadi pada malam dan hari Jum’at. Tidaklah diragukan bahwa hari Jum’at keistimewaannya akan semakin bertambah jika bertepatan dengan hari ‘Arafah.

Kesembilan, hari Jum’at adalah hari penambahan untuk penduduk surga. Tentu, jika bertepatan dengan hari ‘Arafah, keutamaan, kekhususan, dan keistimewaannya akan semakin bertambah yang tidak terdapat pada hari lain.

Kesepuluh, Allah ‘Azza wa Jallamendekat kepada orang-orang di ‘Arafah pada sore hari ‘Arafah, kemudian mempersaksikan bahwa mereka telah diampuni. Kedekatan Allah kepada makhluk pada hari Jum’at sore yang merupakan waktu mustajabah tentu lebih membawa mereka agar senantiasa berdoa dan penuh harapan.[9]

 

Semoga Allah memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk selalu menapaki jalan yang lurus dan memudahkan Kita semua kepada segala pintu ketaatan serta menjadikan hari-hari bulan Dzulhijjah ini sebagai penggugur dosa dan penyebab datangnya rahmat dan ridha Allah. Amin.

Wallâhu A’lam.

 

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara mu’allaq, Abu Dawud, dan Ibnu Mâjah.

[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry.

[4] Diriwayatkan oleh Ahmad,Abu Dâwud, An-Nasâ`iy, Ibnu Abi ‘Âshim, Ibnu Khuzaimah,Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy, serta dishahih­kan oleh Al-Albâny dalamlrwâ’ul Ghalîl.

[5] Tuhfatul Ahwâdzy 4/27.

[6] Zâdul Ma’âd 1/65.

[7] Fathul Bâry 8/204.

[8] Bacalah seluruh nukilan di atas pada kitab Silsilah Ahâdîts Adh-Dha’îfahno. 207, 1193, dan 3144 karya Syaikh Al-Albâny.

[9] Dibahasakan dari Zâdul Ma’âd 1/60-64

Manfaat Sholat Dhuha

Senin, 22 September 2014



Apapun jabatan, tugas dan pekerjaan kita, mari kita sujudkan kening kita di pagi hari sebelum memulai pekerjaan..!!!

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak manfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tak pernah puas dan dari doa yang tidak terkabul. Matahari sudah tinggi, siap-siap shalat Dhuha.”

“Kita pernah bertemu dengan orang baik. Atau, orang yang menganggap diri kita baik. Benarkah? Sesungguhnya bukan kebaikan yang disandang, tapi ada kekuasaan Allah 'Azza wa Jalla yang menutupi aib, kesalahan dan dosa-dosa kita sehingga tidak tampak. Kita tidak bisa bayangkan seandainya Allah tidak menutupi borok kita itu. Seandainya dosa itu berbau, maka tidak ada orang yang mau dekat dengan kita karena tidak tahan dengan baunya. Masihkah kita merasa baik? Kita hanya bisa minta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menutupi kesalahan-kesalahan kita seperti yang terucap dalam doa diantara dua sujud.. Ada 7 permohonan kita, satu di antaranya adalah WAJBURNI (tutupilah kesalahanku) dan Allah mengabulkan permintaan itu. Allahumma aamiin.. Waktunya shalat Dhuha.”

 Shalat Dhuha mempunyai kedudukan mulia. Disunnahkan untuk kita kerjakan sejak terbitnya matahari sampai menjelang datangnya shalat dzuhur.

Seperti diungkapkan oleh Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam bukunya Khasais al-Ummah al-Muhammadiyah tentang keutamaannya, penulis membeberkan keutamaan-keutamaan yang disediakan oleh Allah bagi hamba yang menunaikannya lengkap dengan sumber haditsnya.

🌿 Pertama, orang yang shalat Dhuha akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah. “Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi)

🌿 Kedua, barangsiapa yang menunaikan shalat Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Alah. “Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).

🌿 Ketiga, orang yang menunaikan shalat Dhuha akan dicatat sebagai ahli ibadah dan taat kepada Allah. “Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. At-Thabrani).

🌿 Keempat, orang yang istiqomah melaksanakan shalat Dhuha kelak ia akan masuk surga lewat pintu khusus, pintu Dhuha yang disediakan oleh Allah. “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru, ‘Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan shalat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. At-Thabrani).

🌿 Kelima, Allah menyukupkan rezekinya. “Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan menyukupimu di akhir harimu.” (HR. Abu Darda`).

🌿 Keenam, orang yang mengerjakan shalat Dhuha ia telah mengeluarkan sedekah. “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Muslim).

 Selain keutamaan yang sudah disebutkan di atas, masih ada keutamaan lainnya yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yaitu dengan mengerjakan shalat Dhuha ada pahala besar berupa pahala seperti orang yang haji dan umrah yang diterima oleh Allah. Barangkali kemuliaan ini masih belum diketahui oleh banyak orang. 

Bunyi haditsnya, “Barangsiapa shalat subuh dengan berjamaah, kemudian duduk berdizkir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, dia mendapat pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Turmudzi).

Dalam buku yang berjudul Panduan Shalat Dhuha (Terbitan Darul Uswah, Yogyakarta, 2013) yang ditulis oleh Ibrahim an-Naji dan diterjemahkan oleh Ahmad Suryana ini, diketengahkan syarat-syarat untuk dapat meraih pahala umrah dan haji yang sempurna itu.

🌿 Pertama, diawali dengan shalat shubuh berjamaah..

🌿 Kedua, duduk di tempat shalatnya sampai terbitnya matahari..

🌿 Ketiga, tidak mengerjakan perbuatan yang tidak bermanfaat..

🌿 Keempat, menyibukkan diri dengan berdzikir hingga waktu dibolehkannya shalat Dhuha..

Imam al-Ghazali menyebutkan amalan-amalan yang dilakukan di waktu antara subuh dan shalat Dhuha: berdoa, berzikir dengan tasbih, membaca al-Qur`an dan bertafakur.

🌿 Kelima, mengerjakan shalat Dhuha di tempat ia berzikir tersebut meski hanya dua rakaat..



Berbahagilah orang yang shalat Dhuha. Mengawali pagi dengan ibadah. Santapan ruhani yang menggenapkan semangat menjalani kehidupan dengan penuh keyakinaan dan tawakal. Dari awal hingga akhir menautkan diri kepada Allah yang Maha Kaya.

Barokallahu Fiiek...

6 Persoalan Hidup Menurut Al-Ghazali






Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu ia bertanya kepada mereka,

1. "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi menurut Imam Ghozali yang paling dekat dengan manusia adalah "mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Lihat QS. Ali Imran ayat 185)

2. Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

3. Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?" . Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

4. Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang menjawab dengan jawaban, baja, besi, dan gajah. "Semua jawaban hampir benar," kata Imam Ghozali, "tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 72.
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya sendiri.
                
5. Pertanyaan yang kelima adalah , "Apa yang paling ringan di dunia ini?". Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Gara -gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara -gara meeting kita tinggalkan sholat.

6. Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Mudah2an bermanfaat sodaraku..

Kalimat indah dari Dr. Aid Al Qarni







نحن لا نملgك تغییر الماضي

Kita tdk bisa merubah yg telah terjadi

و لا رسم المستقبل ..

Juga tdk bisa menggariskan masa depan

فلماذا نقتل انفسنا حسرة

Lalu mengapa kita bunuh diri kita dgn penyesalan?

على شيئ لا نستطیع تغییره؟

Atas apa yg sdh tdk bisa kita rubah

الحیاه قصیرة وأهدافها كثيرة

Hidup itu singkat sementara targetnya banyak

فانظر الى السحاب
و لا تنظر الى التراب ..

Maka, tataplah awan dan jangan lihat ke tanah

اذا ضاقت بك الدروب
فعلیك بعلام الغیوب
و قل الحمدلله على كل شيئ

Kalau merasa jalan sdh sempit, kembalilah ke Allah Yang Maha Mengetahui yg ghaib!
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja.

سفينة (تايتنك) بناها مئات الاشخاص

Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang

وسفينة ( نوح ) بناها شخص واحد

Sedang kapal nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang

الأولى غرقت والثانية حملت البشرية

Tetapi, Titanic tenggelam... Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia

التوفيق من الله سبحانه وتعالى

Taufik hanya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala

نحن لسنا السكان الأصليين
لهذا الكوكب الأرض !!
بل نحن ننتمي إلى ( الجنّة )

Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga..

حيث كان أبونا أدم
يسكن في البداية
لكننا نزلنا هنا مؤقتاً
لكي نؤدّي اختبارا قصيرا
ثم نرجع بسرعة ..

Tempat, dimana orang tua kita, Adam, tinggal pertama kali...
Kita tinggal di sini hanya untuk sementara...
Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali...

فحاول أن تعمل ما بوسعك
لتلحق بقافلة الصالحين
التي ستعود إلى وطننا الجميل الواسع
و لا تضيع وقتك في هذا الكوكب الصغير

Maka berusahalah semampumu...
Untuk mengejar kafilah orang-orang shalih...
Yang akan kembali ke tanah air yang sangat luas...
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini...!!

الفراق: ليَس السفِر، ولا فراق الحب، حتىّ الموت ليس فراقاْ
سنجتمَع في الآخره
الفراق هو: أن يكون أحدنا في الجنه،
والآخر في النار

جعلني ربي واياكمَ من سكان جنته..

Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yang jauh...
Atau karena ditinggal orang tercinta...
Bahkan... kematian pun bukanlah perpisahan... sebab kita pasti akan bertemu di akhirat...

Perpisahan itu adalah...
Jika salah satu di antara kita di surga dan yang lain di neraka...

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita semua sebagai penghuni surga!!!

والحياه ما هي إلا قصة قصيرة !!
( من تراب . تراب . إلى تراب )
( ثم حساب . فثواب . أو عقاب )

Hidup ini adalah cerita pendek, dari tanah, di atas tanah, dan kembali ke tanah...

Lalu hisab (yang hanya menghasilkan dua kemungkinan); pahala atau siksa...

فعش حياتك لله - تكن أسعد خلق ﷲ
اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك

Maka, Hiduplah utk Allah niscaya kau akan jadi makhluk-Nya yang paling bahagia...

Ya Rabb utkmu segala puji yang layak utk kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kekuasan-Mu...

Bersabar di Depan Pintu Rahmat Allah

Rabu, 10 September 2014



# Manusia terkadang  berada dalam pusaran dosa dan kemaksiatan, karena rapuhnya iman dan ringkihnya ketaqwaan yang ia miliki, karena sungguh manusia bukanlah maksum yang senantiasa terjaga dari kesalahan dan bukan pula makhluq super yang senantiasa suci tingkah laku dan perbuatannya.

Walaupun manusia senantiasa tak luput dari kelamnya dosa dan pekatnya maksiat, tapi ia makhluq yg mempunyai Pencipta yang begitu luas rahmat dan kasih sayang-Nya kepada manusia yang senantiasa mengharap rahmat-Nya.

Inilah yang menjadikan ibadah hendaknya senantiasa bergandengan indah dengan mengetuk pintu Rahmat Alloh dalam doa dan munajat, karena pintu syurga bukanlah hanya didapat dari amalan harian, akan tetapi ia dimasuki dari rahmat yg Alloh berikan kepada hamba yg Ia kehendaki.

Maka siapapun yang bersabar ketika mengharap rahmat Alloh, maka ia akan mendapatkanya.

Al Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata:
"Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika aku pernah berjalan ke masjid. Aku mendapati seorang wanita di dalam rumahnya
sedang memukuli anaknya. Anak itu berteriak, lalu membuka pintu dan kemudian lari. Maka wanita itu pun mengunci pintu rumahnya... Tatkala aku pulang (dari masjid), aku (kembali)
memperhatikan. Aku mendapati anak itu telah tertidur di dekat daun pintu sesudah menangis beberapa saat. Dia sedang berharap belas kasihan ibunya. Maka luluhlah hati sang ibu lalu ia pun membukakan pintu untuk anaknya."

Kemudian Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah
menangis sampai air matanya membasahi
jenggotnya. Beliau berkata:
"Kalaulah seorang hamba bisa bersabar di depan pintu (rahmat) Allah, niscaya Allah akan membukakan pintu itu untuknya."
Abu Darda' radhiyallahu berkata:
"Bersungguh-sungguhlah dalam memanjatkan doa, karena siapa yang banyak mengetuk pintu (rahmat Allah), niscaya pintu itu akan dibukakan untuknya." (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/22)

Barokallah fikum
La tansana min duaikum

Pilihan Allah adalah yang Terbaik

Minggu, 07 September 2014




Ketika kita menginginkan sesuatu dan memperolehnya maka kita hrs bersyukur kpd Dzat Pemberinya. Namun jika keinginan tsb belum kita peroleh maka seharusnyalah kita tetap bersyukur, krn boleh jadi di sana ada kebaikan yg kita tidak tahu.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata:

قال على بن أبى طالب أطلب الشئ من الله فإن أعطانى إياه فرحت مرة واحدة وإن لم يعطنى إياه فرحت عشر مرات فالأولى اختيارى والثانية اختيارالله

"Saya minta sesuatu pd Allah. Jika Allah memberinya padaku, saya gembira sekali saja. Namun, jika Allah tidak memberinya pdku, saya gembira sepuluh kali lipat. Sebab, yg pertama itu pilihanku, sedangkan kedua itu pilihan Allah."

Allah swt berfirman :

ُوَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Dan boleh jadi apa yg kalian benci itu lebih baik bagi kalian. Dan boleh jadi apa yg kalian cintai itu lebih buruk bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui." (QS Al Baqarah : 216)

Bersemangat mencari kebaikan di manapun dan kapanpun. Kuatkan iman kita pd keputusan dan takdir Allah SWT...

#tetap bersabar dan selalu bersyukur

SUNNAH-SUNNAH DI HARI RAYA

Minggu, 27 Juli 2014



1. Mandi Sebelum Berangkat Shalat
2. Memakai pakaian terbaik dan minyak wangi. Untuk wanita dilarang memakai wewangian dan hanya boleh dipakai untuk suaminya.
3. Makan terlebih dahulu sebelum shalat Idul Fitri. Adapun pada hari raya Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan sholat.
4. Pergi menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat Ied. Lebih utama melaksanakan sholat Ied di tanah lapang ketimbang di masjid. Karena Rasulullah tidak pernah melaksanakan sholat Ied didalam masjid kecuali saat hujan. Namun dibolehkan untuk mlakukannya di masjid bila tidak menemukan tanah lapang.
5. Bertakbir saat berjalan menuju masjid.
6. Bagi kaum wanita dan anak anak dianjurkan keluar menuju tanah lapangan untuk menghadiri sholat Ied dan mendengarkan khutbah.
7. Melaksanakan Sholat Ied
8. Mendengarkan khutbah
9. Berangkat dan Pulang melewati jalanyang berbeda.
10. Mengucapkan selamat hari raya.
“taqabbalallahu minna wa minka”
11. Bersenang-senang dan bergembira dengan mengadakan pesta atau permainan yang halal mubah

Catatan:
Hindari ikhtilat (bercampur baur) atau berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Karena hal tersebut termasuk hal yang diharamkan secara syar’i berdasarkan sabdanya:
“Ditusukkan jarum besi diatas kepala salah seorang di antara kalian, jauh lebih baik katimbang ia menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”

Demikin semoga bermanfaat.

Taqabbalallhu minna wa minkum taqabbal yaa kariim

اللَّهُـــمَّے صَــلِّے عَلَــى سَــــيِّدِنَا مُحَـــمَّدٍ و عَلَــى آلِے سَـــــيِّدِنَا مُحَـــــــمَّد

Makanan Mukmin Menjelang Ad-Dajjal Keluar

Kamis, 17 Juli 2014


Ihsan Tandjung – Kamis, 19 Ramadhan 1435 H / 17 Juli 2014 11:23 WIB

Di dalam bukunya yang berjudul “Kisah Dajjal dan Turunnya Nabi Isa ‘alahissalam Untuk Membunuhnya”, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menulis sebagai berikut:

“Asma’ berkata, “Akan tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa sehingga aku khawatir terkena musibah kelaparan, dan apa yang bisa dimakan oleh kaum mukmin pada waktu itu?” Jawab Nabi صلى الله عليه و سلم :

يَجْزِيهِمْ مَا يَجْزِي أَهْلَ السَّمَاءِ

“Allah سبحانه و تعالى mencukupkan kepada mereka dengan makanan yang diberikan kepada penduduk langit (Malaikat).” (HR. Ahmad No. 26298)

Asma’ berkata, “Wahai Nabi Allah, bahwasanya Malaikat tidak makan dan tidak minum.” Jawab Nabi صلى الله عليه و سلم :

“Akan tetapi mereka membaca tasbih dan mensucikan Allah سبحانه و تعالى , dan itulah makanan dan minuman kaum beriman saat itu, tasbih dan taqdis.” (HR. Abdul Razzaq, ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Asakir. Ibnu Katsir berkata, “Isnad ini merupakan isnad yang tidak ada cacat (laa ba’sa bihi).” (“Kisah Dajjal”—Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani; Pustaka Imam Asy-Syafi’i; hlm. 94-95)

Yang dimaksud oleh Asma’ binti Yazid Al-Anshariyyah dengan “mereka tidak mendapatkan apa-apa sehingga aku khawatir terkena musibah kelaparan” ialah saat menjelang Ad-Dajjal keluar untuk menebar fitnah di tengah ummat manusia. Khususnya di dalam suatu hadits yang juga dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani sebagai berikut:

“Sesungguhnya tiga tahun sebelum kemunculan Ad-Dajjal, di tahun pertama, langit menahan sepertiga air hujannya, bumi menahan sepertiga hasil tumbuhannya, dan di tahun kedua, langit menahan dua pertiga air hujannya, dan bumi juga menahan dua pertiga hasil tanamannya. Dan di tahun ketiga langit menahan seluruh yang ada padanya dan begitu pula bumi, sehingga binasalah setiap yang memiliki gigi pemamah dan kuku.” (“Kisah Dajjal”— Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani; Pustaka Imam Asy-Syafi’i; hlm. 92)

Jika Nabi صلى الله عليه و سلم menyatakan bahwa “sehingga binasalah setiap yang memiliki gigi pemamah dan kuku”, itu berarti setiap hewan yang memberikan protein utama bagi manusia menjadi punah. Seperti di antaranya ialah: kambing, domba, sapi, kerbau dan onta. Dan sebab itulah Asma’ menjadi khawatir apa yang bakal menjadi makanan kaum beriman di masa itu. Lalu Nabi صلى الله عليه و سلم menjelaskan bahwa makanan kaum mukmin di masa itu ialah makanan penghuni langit, yaitu para malaikat. Dalam hal ini berupa tasbih dan taqdis.

Masya Allah…! Nabi صلى الله عليه و سلم memberi tahu kita yang hidup di masa menjelang datangnya puncak fitnah, yakni Ad-Dajjal, bahwa jenis makanan orang beriman adalah semisal dengan makanan para malaikat. Bayangkan…! Betapa pentingnya kedudukan dan peranan dzikrullah di masa fitnah menjelang hadirnya Ad-Dajjal. Sedemikian pentingnya mengingat Allah سبحانه و تعالى (dzikrullah) sehingga jika dilakukan dengan baik dan benar, maka ia dapat menggantikan fungsi makanan, khususnya protein, yang pada masa itu menjadi barang langka jika tidak bisa dikatakan musnah sama sekali.

Maka saudaraku, alangkah pentingnya ummat Islam sejak sekarang sudah melatih diri dan keluarganya untuk melakukan dzikrullah yang berkualitas dan sebanyak mungkin. Baik dzikrullah yang formal, seperti sholat lima waktu yang hukumnya fardhu ‘ain, maupun dzikrullah yang non-formal seperti berbagai wirid yang dianjurkan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Pantas bilamana Allah سبحانه و تعالى menurunkan ayat khusus berisi perintah untuk dzikrullah sebanyak mungkin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab [33] : 41-42)

Bila ummat Islam sudah membiasakan sejak dini berdzikir mengingat Allah سبحانه و تعالى sebanyak mungkin dan diiringi dengan kualitas pelaksanaan yang bermakna, niscaya perlahan tapi pasti kegiatan dzikrullah akan menjadi suatu kebutuhan bagi ruhani mukmin laksana makanan dan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Jadi, sejak sekarang setiap mukmin perlu meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikrullah sebab kita tidak tahu kapan tiga tahun sulit menjelang keluarnya Ad-Dajjal datang. Lebih baik mempersiapkan diri dan keluarga sedini mungkin daripada terlambat.

Alhamdulillah, kita bersyukur Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم memberi tahu beberapa pesan khusus mengenai wirid yang berkaitan dengan fitnah Ad-Dajjal, seperti:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi, ia terlindungi dari fitnah Dajjal.” (HR. Abu Dawud)

من قرأ سورة الكهف كما أنزلت كانت له نورا يوم القيامة من مقامه إلى مكة ومن قرأ عشر آيات من آخرها ثم خرج الدجال لم يضره

“Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi sebagaimana diturunkan, maka baginya cahaya di hari Kiamat dari tempatnya hingga Mekkah, dan barangsiapa membaca sepuluh ayat terakhir surah Al-Kahfi lalu Ad-Dajjal keluar, maka Ad-Dajjal tidak akan dapat memudharatkannya.” (Dishahihkan oleh Al-Albani)

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Jika salah seorang diantara kalian ber-tasyahud (dalam sholat), hendaklah meminta perlindungan kepada Allah سبحانه و تعالى dari empat perkara dan berdoa, “ALLAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA WAMIN ‘ADZAABIL QABRI WAMIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WAMIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAL (Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).” (HR. Muslim No. 924)

Tidak Benar, Nabi Muhammad Dijamin Masuk Surga?

Rabu, 16 Juli 2014


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sehubungan dengan acara tafsir al-misbah di Metro TV pd tgl 12 juli 2014. Bp. Quraish Shihab mengatakan “Tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga dari Allah S.W.T”. Mohon penjelasannya.

Salam,
Dari Roy

Jawaban:

Wa'alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Surga adalah hak prerogatif Allah. Dialah satu-satunya yang berhak menentukan, siapa yang akan masuk surga. Akan tetapi, jika Allah telah menegaskan melalui firman-Nya atau melalui hadis Rasul-Nya bahwa ada beberapa orang yang dijamin masuk surga, apakah hal ini akan kita ingkari??

Terdapat sangat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijamin masuk surga. Baik dalil al-Quran maupun hadis. Berikut hanya beberapa diantaranya,

Firman Allah,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) kemenangan yang nyata, Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). (QS. Al-Fath: 1 – 3).

Allah memberi jaminan mengampuni semua dosa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat dan yang akan datang. Jaminan ini diberikan oleh Allah ketika beliau masih hidup, bersamaan dengan Allah berikan kepada beliau kemenangan yang nyata.

Allah juga berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (QS. An-Nisa: 69 – 70)

Para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shaleh, mereka di surga.

Memang, untuk manusia SELAIN nabi, kita tidak bisa memastikan apakah si A itu orang sholeh di sisi Allah atakah bukan.

Tapi untuk nabi, kita wajib memastikan. Karena bagian dari rukun iman adalah iman kepada para nabi. Dan tidak mungkin iman ini bisa terwujud, sementara kita tidak tahu siapa saja yang menjadi nabi. Dan siapapun yang termasuk nabi, dia dijamin masuk surga. Tentu saja Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam termask di dalamnya, karena beliau nabi terbaik.

Allah juga berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

”Sesunguhnya Aku berikan kepadamu al-Kautsar.”

Mengenai tafsir al-Kautsar, disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum.

‘Apa yang membuat anda tertawa, wahai Rasulullah?’ tanya kami.

“Baru saja turun kepadaku satu surat.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat al-Kautsar hingga selesai.

”Tahukah kalian, apa itu al-Kautsar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

”Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Jawab kami.

Kemudian beliau bersabda,

فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي فِي الْجَنَّةِ، آنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْكَوَاكِبِ

“Itu adalah sungai, Allah janjikan untuk diberikan kepadaku di Surga. Jumlah gayungnya sebanyak bintang..” (HR. Muslim 400, Ahmad 11996, Nasai 904, Abu Daud 784, dan yang lainnya).

Ayat dan hadis di atas sangat jelas bahwa beliau dijamin masuk surga. Apa gunanya janji diberi sesuatu di surga, sementara beliau belum dijamin masuk surga.

Di samping itu, hadis yang sangat tegas bahwa beliau dijamin masuk surga adalah hadis dari Said bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyebutkan daftar sahabat yang masuk surga,

النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ…

”Nabi di surga, Abu Bakr di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga….”

(HR. Ahmad 1631, Abu Daud 4649, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kemudian hadis dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى

“Saya bersama orang yang nanggung anak yatim di dalam surga seperti ini.”

Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. (HR. Bukhari 6005, Abu Daud 5150, dan yang lainnya)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لا يُدْخِلُ أَحَدًا الجَنَّةَ عَمَلُهُ
قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ»

“Tidak ada seorangpun yang dimasukan surga oleh amalnya.”

Para sahabat bertanya, “Termasuk anda, wahai Rasulullah?”

“Termasuk saya, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmatnya.” (HR. Bukhari 6467, Ahmad 15236).

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapatkan jaminan surga, karena Allah meliputi beliau dengan ampunan dan rahmatnya, yang dengan itu beliau dijamin masuk surga.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan pemikiran orang liberal, pembela syiah, yang menghina islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

SEMAKIN RENDAH SEMAKIN TINGGI


Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:

Semakin seorang hamba tunduk, hina, dan butuh kepada Allah maka ia semakin dekat kepada-Nya dan semakin tinggi kedudukannya di sisi-Nya.

Maka orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling tinggi peribadatannya kepada Allah.

Adapun terhadap makhluk (orang lain) maka sebagaimana yang dikatakan:

✒ Butuhlah kepada siapa saja yang kau kehendaki maka jadilah engkau tawanannya
✒ Cukupkanlah dirimu dari siapa saja yang kau kehendaki maka engkau semisal dengannya
✒ Berbuat baiklah kepada siapa saja yang kau kehendaki maka engkau akan menjadi pemimpinnya

Maka seorang hamba sangat tinggi kedudukannya dan sangat dihormati oleh masyarakat jika ia sama sekali tidak butuh kepada mereka.

Jika engkau berbuat baik kepada mereka sedangkan engkau tidak butuh kepada mereka maka engkau sangat mulia dan dihormati oleh mereka.

Kapan saja engkau butuh kepada mereka -meskipun hanya seteguk air- maka berkuranglah kedudukanmu seiring dengan kadar kebutuhanmu kepada mereka.

Karenanya tatkala Hatim al-Ashom ditanya:
"Bagaimanakah selamat dari manusia?", ia berkata, "Engkau memberikan kebaikan kepada mereka, dan engkau tidak mengharap sesuatu pun dari mereka".

(Majmu al-Fataawaa 1/39)

Kisah Salaf tentang NAFSU TERSEMBUNYI

Sabtu, 05 Juli 2014

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak.

••••••••••••••••••••••••●●●
Menuturkan lembaran episode hidupnya, Ahmad bin Miskin bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.

Maka aku berazam untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan jalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.

Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: "berikan makanan ini kepada keluargamu."

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:

"Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan."

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. "Ambillah, beri dia makan", kataku pada si ibu.

Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu.

Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku.

Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah.

Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr terbang kegirangan  mendatangiku.

"Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya.

"Subhanallah....!", jawabku kaget. "Dari mana datangnya?"

"Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta", ujarnya.
"Terus?", tanyaku keheranan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.

Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melajit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.

Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.

Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya."

Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :

"Kalimat puji dan syukur kepada-Nya berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukurku, segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang.

Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih.

••••••••••••••••••••••••●●●
Suatu malam, aku tidur dan bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain.

Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing-masing di punggungnya.

Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA (kota tempat tinggal, pent), isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan.  

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. 

Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu daun timbangan, sedangkan amal baikku di daun timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku.

Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.

Namun alangkah ruginya, ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu nafsu itu.

Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara, "masihkah orang ini punya amal baik?"

"Masih", jawab seseorang. "Masih tersisa ini."

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH  dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.

Habis sudah harapanku.
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.

Bagaimana mungkin dua lembar roti  ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekan.

Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.

Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus turun. Hingga akhirnya aku mendengar seseorang berkata, "Orang ini telah selamat."
 
■■SELESAI■■

••••••••••••••••••••••••●●●
Adakah terselip dlm hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh org lain pada ibadah-ibadah kita?

Buang sekarang keinginan itu.. biarkan hanya untuk Allah saja. Karena segala sesuatu yang selain karena-Nya hanya tipuan kosong belaka.

Astaghfirullaahal 'Aadziim...

Malu dengan Ust. Furqon

Kamis, 26 Juni 2014

Beberapa hari yang lalu, saya malu sekali. Jam 12.30 sd 13.30 lihat acara THR (Taushiyah Berkah Ramadhan) di RCTI. Bersama ust. Yusuf Mansur.

Salah satu tamu yang diundang adalah Ust. Furqon.

-Beliau seorang yg buta. Tapi tiap hari tilawah Qur'an. Bahkan ikut program ODOJ.

-Beliau baca dgn al-Quran braile. Tiap hari 1 juz. Utk mendapatkan Quran tsb beliau harus beli 1,8 juta.

-Menurut beliau, org yg tidak tilawah tiap hari sama dgn org yg dzolim.

-Beliau sudah umroh, dengan cara mbayar umroh ke masjid. Sedekah. Niat utk umroh. Alhamdulilah dlm bbrp bulan ada hamba Allah yg memberangkatkan beliau dgn istri. Bahkan bisa dua kali ke Raudhoh.

-Istrinya hamil dan baru melahirkan setelah 12 tahun sabar menanti kehamilan.

-Beliau tiap hari jamaah ke masjid. Meski dgn dituntun.

-Beliau mengamalkan sedekah harian. Tiap subuh.  Niat mengawali hari dengan sedekah.

-Beliau rutin menafkahi ibunya. Dan menjadikan itu hal yg utama sebelum membayar kebutuhan yg lain. Berharap doa dan ridha Allah swt.

-Beliau fasih menghafalkan beberapa  hadits dan ayat quran.

-Beliau yakin dlm bbrp tahun kedepan akan bisa haji. Atas ijin Allah.

-Beliau menukil firman Allah swt.

(وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ)

(قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا)

(قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ)

[Surat Ta-Ha : 124-126]

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".

-Kata beliau: buta di dunia saja rasanya sdh tidak enak, apalagi buta di akhirat kelak.

-Kata beliau: Allah berfirman dlm hadits qudsi: barang siapa yg diuji dgn buta didunia dan ia bersabar, maka baginya surga.

----
Bagaimana dgn diri kita, dengan kesempurnaan mata. Kemudahan melangkah. Kemudahan membeli al-Quran.

Masihkah kita berat tilawah 1 hari 1 juz?

Masihkan berat utk melangkah berjamaah ke masjid?

Masihkah berhitung saat bersedekah?

Masihkah tidak yakin bisa haji dan umroh?.

Lapis-Lapis Keberkahan

Rabu, 25 Juni 2014

Ramadhan adalah bulan yang istimewa. Allah berikan lapis-lapis keberkahan di dalamnya. Diantara keutamaan bulan istimewa ini adalah Allah berikan kepada ummat Muhammad saw. Sampai-sampai Musa as cemburu kepada ummat Muhammad atas ketetapan Allah ini. Ramadhan berasal dari kata Ramad yang artinya membakar dan terik. Dikisahkan Ramadhan pertama kali ditetapkan saat jazirah Arab mengalami puncak musim panas.

Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena pada bulan itu Alqur’an diturunkan. Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad saat usianya 40 tahun. Pada malam itu Muhammad mengasingkan diri di Gua Hira. Beliau memikirkan kerusakan yang terjadi di negerinya. Bagaimana perzinaan, perjudian, penguburan anak perempuan hidup-hidup, perbudakkan, dan perbuatan keji dan munkar lainnya menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat Arab kala itu. Bahkan mereka membuat syariat-syariat baru dengan prasangka-prasangka mereka.

Sebelum menurunkan wahyu-Nya, tentu Allah telah memeriksa hati setiap manusia kala itu, dan Allah mendapati hati Muhammad lah yang paling jernih, sehingga Allah titipkan padanya amanah yang begitu besar, yaitu untuk menegakkan syariat Allah.

Sedemikian dalamnya Muhammad terlarut memikirkan nasib negerinya, dan dengan tiba-tiba datang utusan Allah dari langit yang mengatakan, “iqro”. Muhammad hanya diam. Muhammad adalah seorang yang ummiy, beliau  tak bisa membaca pun menulis. Karena masyarakat Arab saat itu menganggap bahwa kecerdasan seseorang diukur dari bagaimana ia menghafal dan menyusun syair secara spontan. Sehingga seseorang akan dikanggap kurang cerdas apabila ia menulis dan membaca.
Turunnya Al-Qur’an saat itu merupakan titik perubahan Islam.  Cahaya Allah itu turun melalui Jibril. Di Gua Hira dengan “iqro” sebagai kata pertamanya. Jibril memerintahkan Muhammad untuk membaca. Bukan membaca tulisan, namun membaca keadaan di sekitarnya. Membaca dan merenungi ciptaan-ciptaan Allah. Bagaimana rumitnya penciptaan manusia. Allah mengajarkan pelajaran yang tidak diketahui Muhammad dan manusia lain sebelumnya.

Saat itu Jibril mendekap Muhammad dengan sangat erat. Dekapan itu bukan hanya membuat Muhammad bergetar, tapi juga sesak nafas. Jiwa Muhammad seolah terguncang saat wahyu pertama turun padanya. Beliau tak menyangka sedikitpun akan menerima wahyu dari Allah. Berkali-kali Muhammad terjatuh saat berjalan pulang ke rumah saking gemetarnya. Kemudian beliau mengetuk-ngetuk pintu rumah Khadijah dan dalam gemetar beliau berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Khadijah sebagai wanita yang cerdas dan agung hanya menuruti suaminya tanpa banyak bertanya. Ia sungguh mengetahui bahwa laki-laki berbeda dengan perempuan. Laki-laki hanya butuh ruang dan waktu untuk menyendiri ketika memiliki masalah. Sebaliknya, perempuan lebih memilih bercerita untuk membagi beban hingga ia merasa ringan karenanya.

Al-Qur’an adalah salah satu lapis keberkahan yang Allah titipkan di dalam Ramadhan. Al-Qur’an adalah kitab yang mengandung keberkahan dunia akhirat. Ia adalah penyembuh bagi setiap hati manusia yang berpikir. Ruh dan jasad adalah dua unsur pembentuk manusia.
Ruh berasal dari negeri akhirat, sehingga sebetulnya ia selalu meronta setiap hari untuk kembali ke kampung halamannya. Sedangkan jasad berasal dari tanah, dari bumi. Sehingga ia selalu merajuk kepada manusia untuk berlama-lama tinggal di bumi. Itulah sebabnya mengapa manusia senang mempercantik jasadnya, menjaga jasadnya dengan macam-macam kosmetik anti penuaan, anti keriput, dan sebagainya.

Ruh tidak butuh semua itu. Ruh ibarat perantau yang merindu. Dan kerinduannya hanya bisa diobati dengan media yang menghubungkannya dan mengingatkannya pada kampung halaman. Jika perantau saat ini membutuhkan skype atau jaringan telepon untuk berkomunikasi dengan keluarganya sehingga ternutrisi kembali semangat juangnya untuk segera kembali ke kampung halamannya, maka ruh butuh Al-qur’an sebagai penyangga semangatnya untuk terus berjuang menuju kampung akhirat.

Bacalah Al-Qur’an dan taddaburilah ia agar kita tahu langkah apa yang mendekatkan ruh kita pada sebaik-baik tempat berpulang. Ruh yang jauh dari Allah adalah ruh yang sakit. Ia tidak akan kuat menanggung beban-beban hidup.
Allah berfirman dalam Alqur’an bahwa sebaik-baik pekerjaan di malam hari bagi manusia yang penat setelah berlelah-lelah dan berpayah-payah di siang hari adalah berdiri dan membaca firmanNya dengan tartil, bersujud, dan bermesra dalam doa denganNya. Bukan tidur 8 jam, dan cuci kaki cuci tangan, minum susu sebelumnya. Dengan qiyamul lail, Allah akan sambung semangat dalam berjuang. Dengan qiyamul lail, Allah akan hapuskan semua kekhawatiran dan ketakutan yang merasuk dalam dada hamba-hambaNya.

Al-Qur’an adalah penyembuh hati manusia. Ia mengobati dengki, dendam, tamak, sombong, & sum’ah. Bagaimana seseorang bisa menyimpan dengki kalau ia menyimak firman Rabb nya yang Maha Agung dan menyadari betapa hina dan fakirnya ia di hadapan Rabb nya. Bagaimana seseorang akan menuruti hawa nafsunya sedang ia membaca firman Allah sang pemilik syurga.

“Ihdinaa shiraathal mustaqiim..” Sedikitnya 17 kali kita membaca firman Allah ini dalam sehari. “Tunjukilah kami jalan yang lurus” Sedikitnya 17 kali kita melafalkan doa ini dalam sehari. Ketahuilah bahwa jalan yang lurus ini tidaklah mudah. Ia seringkali dapat berbentuk jalan yang terjal, berliku, dan curam.
Al-Qur’an mengandung banyak kisah yang mengandung banyak hikmah. Renungilah kisah Yusuf as dengan liku-liku kehidupannya. Bagaimana ia menjadi kesayangan sang ayah, kemudian didengki oleh saudara-saudaranya, dibuang ke sumur, ditemukan seseorang, dijual, dijadikan budak, lalu digoda oleh majikannya. Ia memilih di penjara, lalu kemudian dibebaskan, hingga ia diangkat menjadi menteri.

Renungilah kisah Yunus as, yang hampir berputus asa dalam dakwah. Renungi pula kisah kekayaan Sulaiman as, kisah ketabahan Ayyub as, kisah kegigihan dakwah Musa as. Allah berikan kepada kita hikmah/pengajaran dan petunjuk melalui kisah-kisah di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah furqon, yang dengannya kita bukan hanya dapat membedakan, tapi juga membantu menentukan mana yang haq, yang harus kita ambil dan mana yang batil yang harus kita jauhi.

Lapis keberkahan berikutnya yang terkandung dalam bulan Ramadhan adalah syariat shaum yang Allah tetapkan bagi hambaNya. Kaum Quraisy terdahulu terbiasa untuk berpuasa pada tanggal 13, 14, 15 di setiap bulannya, kita mengenalnya dengan shaum ayyamul bidh. Lalu Allah menurunkan syari’at untuk shaum di bulan Ramadhan dan disunnahkan untuk menyempurnakannya dengan shaum 6 hari di bulan Syawal. Sehingga dengan shaum tersebut Allaah janjikan pahala layaknya shaum sepanjang tahun.

Shaum adalah ibadah yang istimewa. Shaum adalah latihan mengupayakan terkabulnya doa. Sebab, salah satu faktor yang mengahalangi diijabahnya doa adalah makanan yang haram yang mengalir dalam darah kita. Oleh karenanya, shaum diharapkan dapat membentengi diri dan membuat kita lebih berhati-hati memberi asupan pada tubuh kita. Selain halal, makanan yang kita makan juga harus thoyyib/baik.
Hasrat untuk berdoa adalah karunia Allah. Kita boleh khawatir akan tidak diijabahnya doa. Tapi kita perlu lebih merasa khawatir ketika di dalam diri tak ada keinginan untuk berdoa. Ada indikasi sombong di dalam diri kita. Berdoa bukan hanya perkara meminta, sebab Allah tentu lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan kita. Berdoa adalah berbincang mesra kepada Allah. Menyandarkan diri atas semua ketetapanNya. Menghinakan diri, merasa diri tak berdaya di hadapanNya.

Jangan pernah merasa besar dengan keislaman kita. Jangan merasa paling berjasa dengan keberhasilan-keberhasilan dakwah kita. Sebab semua itu tidak dapat terjadi tanpa kehendakNya. Tiada daya dan upaya untuk melakukan ketaatan, menjauhi kemaksiatan kecuali dengan pertolonganNya.

Ketahuilah, karunia Allah atas akhirat lebih baik daripada karunia Allah atas kenikmatan dunia. Maka, berbahagialah orang yang amal sholehnya tidak di balas di dunia, karena bisa jadi amal sholehnya itu tak dapat terbayar dengan dunia dan isinya.

Sadarilah bahwa kebaikan-kebaikan yang datang pada kita bukanlah balasan amal sholeh, ia adalah ujian. Ayyub as selalu beramal sholeh, namun Allah karuniakan padanya sakit berkepanjangan dan kefakiran. Takaran keberhasilan amal sholeh adalah ketika dengan amal sholeh itu berhasil membentenginya dari perbuatan keji dan munkar.

Ditulis oleh: Ambar Septi Purwaninda
*Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan*
mignoninda
beautyofislam
Jun 23rd, 2014

Notulensi Kajian Tahrib Ramadhan: Lapis-Lapis Keberkahan o/ Ust Salim A. Fillah http://t.co/bPVhUAEO1N. Semoga bermanfaat..

Indahnya Akhlak Rasulullah

Selasa, 24 Juni 2014

Saudaraku...
Anda tentu tahu, siapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Beliau adalah Nabi yg penuh dengan kasih sayang, utusan Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Seluruh dakwah beliau adalah rahmat, kasih sayang dan kebaikan. Allah ta’ala berfirman,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (QS. Ali Imron : 159)
 
Saudaraku...
Hisyam Muhammad Sa’id Barghisy dalam bukunya, “A’zham Insan arafathu al-Basyaririyyah, akhlaquhu wa kaifa Nuhibbuhu wa Nanshuruhu” mengatakan, “Di antara bukti kasih sayang beliau, adalah manakala seorang pemuda datang kepada beliau meminta izin utuk berzina, di mana diriwayatkan dari Abu Umamah -radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Seorang anak muda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina".

Maka orang-orang mendekatinya dan menghardiknya, mereka berkata kepadanya, “Diam”. Maka nabi bersabda, "Mendekatlah.“ Anak muda itu mendekat , Nabi bertanya kepadaNya, “Apakah engkau suka hal itu terjadi pada ibumu? Sang pemuda menjawab, "Tidak demi Allah, wahai Rasulullah, aku rela Allah menjadikan diriku tebusan demi dirimu". Nabi bersabda, orang-orang pun tidak menginginkan itu terjadi pada ibu mereka”.
Kemudian beliau juga menyebutkan hal yg sama berkenaan dengan anak perempuan, saudari, dan bibi, maka semua itu dijawab dengan jawaban yg sama oleh pemuda tadi.

Lalu Nabi meletakkan tangan beliau di dadanya seraya berdoa,
 
اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ  
 
“Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.
 
Maka setelah itu anak muda tersebut tidak menoleh kepada (keinginan itu, keinginan untuk berzina) sedikitpun". (HR. Ahmad. Dishahihkan oleh al-Albani)

JANGAN PERNAH BERHENTI ATAU MENYESAL MENJADI ORANG BAIK

Senin, 23 Juni 2014

Boleh jadi, saat engkau tidur terlelap, pintu langit sedang diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu; dari seorang fakir yang telah engkau tolong, atau dari orang kelaparan yang telah engkau beri makan, atau dari seorang yang sedih yang telah engkau bahagiakan, atau dari seseorang yang berpapasan denganmu yang telah engkau berikan senyuman, atau dari seorang yang dihimpit kesulitan dan telah engkau lapangkan. Maka, janganlah sekali-kali meremehkan sebuah kebaikan.

[Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Miftah Daaris Sa'aadah]

Sejahat-jahat Pencuri

Minggu, 15 Juni 2014

Disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً ، الَّذِي يَسْرِقُ صَلاَتَهُ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُهَا ؟ قَالَ : لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلاَ سُجُودَهَا.

“Sejelek-jelek manusia adalah pencuri yaitu yang mencuri shalatnya.” Para shahabat lantas bertanya pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka bisa dikatakan mencuri shalatnya?” “Yaitu mereka yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”, jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (HR. Ahmad,hasan).

Sayang seribu sayang, hanya sedikit yang tahu kalau thuma’ninah (bersikap tenang dalam shalat, tidak cepat-cepat) merupakan bagian dari rukun shalat yang jika tidak terpenuhi akan membuat shalat menjadi batal.

---------------------

NASEHAT MENJELANG MUSIM KETAATAN

Kamis, 12 Juni 2014

Bismillah..
Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity -hafidzahullah- ditanya, "Wahai Syaikh.. Dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya musim ketaatan (romadhon)...?

Syaikh menjawab:
"Sebaik-baik amalan yang dilakukan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar. Sebab dosa akan menghalangi seseorang dari taufiq Allah (untuk melakukan ketaatan).

Tidaklah hati seorang hamba selalu beristighfar melainkan akan disucikan.
Bila ia lemah, maka akan dikuatkan..
Bila ia sakit, maka akan disembuhkan..
Bila ia diuji, maka akan diangkat ujian itu darinya..
Bila ia kalut, maka akan diberi petunjuk..
Dan bila ia galau, maka akan diberi ketenangan..

Istighfar merupakan benteng aman yang tersisa bagi kita (dari adzab Allah) sepeninggal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata: "Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya. Maka apa lagi yang kau tunggu...?

(Perbanyaklah Istighfar....)

Ibnul Qayyim -rahimahullah- mengatakan, "Bila engkau berdo'a dan waktu begitu sempit sementara dadamu dipenuhi hajat yang begitu banyak, maka jadikan seluruh isi do'amu agar Allah memaafkanmu. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.

Ya Allah.. Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai kemaafan, maka ampunilah kami..

"Barangsiapa yang beristighfar maka Allah akan menganugrahkan kebahagiaan dari setiap duka yang menimpanya, akan memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka". (HR. Ibnu Madjah)

"Barangsiapa yang mengucapkan istighfar di awal hingga akhir siang dan malam maka ia adalah ahli surga". (HR. Bukhari)

Semoga Bermanfaat

Panen Pahala Meski Sakit

Kamis, 29 Mei 2014

Saudaraku…
 
Engkau ingin panen pahala meski engkau tengah sakit? jika jawaban anda, “ Ya”, maka rajin-rajinlah anda beribadah selagi anda sehat.
 
Rasulullah  صلى الله عليه و سلم bersabda,
 
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
 
“Bila seorang hamba sakit atau dalam perjalanan jauh maka akan dituliskan (pahala) seperti saat ia beramal di rumah dan dalam keadaan sehat”. (HR. al-Bukhari)
 
Saudaraku…
 
Sabda Nabi  صلى الله عليه و سلم di atas memberikan beberapa pelajaran berharga kepada kita, di antaranya :
 
1. Seorang muslim ketika mengerjakan amal kebaikan saat sehat, maka ketika sakit dituliskan pahala yang sama layaknya ia mengerjakan saat sehat.

2. Demikian pula musafir, dituliskan pahala kebaikan yang ia kerjakan saat berada di rumah (tidak bepergian jauh)

3. Besarnya karunia Allah kepada para hamba-Nya dengan memberi pahala bagi mereka atas kebaikan yang mereka kerjakan dan yang tidak bisa mereka perbuat

4. Himbauan untuk kontinyu dalam ketaatan saat sehat dan berada di rumah agar mendapatkan pahala ketaatan tersebut ketika sakit dan safar

5. Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di di dalam Bahjatu Qulubil Abror, hal. 79 mengatakan, “Orang yang selalu berniat untuk berbuat baik kemudian harus mengerjakan ibadah lain yang lebih utama sehingga tidak bisa mengerjakan keduanya sekaligus, ia lebih pantas lagi dicatat mengamalkan amal ibadah yang tidak bisa ia kerjakan”.

Semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah 'Azza wa Jalla.. Dan semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.

Copyright @ 2013 Assaabiquun. Desain atas kerjasama Rizki Adriadi Ghiffari | Rizki Adriadi Ghiffari